Ternak Indonesia Masih Susah Bersaing

JAKARTA,KAMIS – Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (Askesmaveti) menilai daya saing produk peternakan Indonesia  saat ini masih rendah akibat tidak mampu mengantisipasi isu global.

Ketua Umum Askesmaveti, Bachtiar Moerad di Jakarta, Kamis (17/4) menyatakan, sejumlah isu global tersebut seperti status kesehatan hewan, keamanan pangan (food savety), kesejahteraan hewan (animal Welfare) dan ekuivalensi sistem pengawasan keamanan pangan (asal hewan). “Produk pangan asal hewan Indonesia akhirnya tidak mampu menembus pasar internasional,” katanya.

Dia mencontohkan, daging sapi dan daging olahan yang akan masuk ke Singapura dan Jepang terganjal oleh status Indonesia terhadap BSE atau sapi gila, yang menurut Organisasi Kesehatan Hewan Internasional (OIE) Indonesia masuk kategori “undetermined BSE risk”.

Selain itu sarana Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang tidak memenuhi persyaratan higiene-sanitasi  karena kurangnya perawatan alat dan bangunan menyebabkan penolakan ekspor produk ternak Indonesia oleh Singapura, Jepang dan Mesir.

Produk daging unggas dan olahannya, tambahnya, ditolak masuk ke Singapura dan Jepang karena terganjal wabah Flu Burung dan tidak efektifnya sistem pengawasan keamanan pangan asal hewan. Bahkan, Bachtiar Moerad juga menyayangkan ekspor pucuk tebu asal Indonesia untuk pakan ternak ke Jepang juga terganjal karena isu penyakit mulut dan kuku (PMK).

Menurut dia, status Indonesia sebagai salah satu dari 57 negara di dunia yang diakui bebas PMK tanpa vaksinasi oleh OIE sejak tahun 1990 sebenarnya merupakan peluang yang bagus untuk meningkatkan daya saing produk peternakan di pasar internasional. “Sayang pemerintah dan para produsen belum mampu mengisi pasca pembebasan PMK di Indonesia itu dengan baik,” katanya.

Oleh karena itu, tambahnya, status Indonesia sebagai negara bebas PMK harus dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pemerintah dan pelaku usaha untuk menembus pasar bebas dengan melakukan revitalisasi peternakan.

Pada kesempatan tersebut Bachtiar  mengatakan, untuk mengantisipasi ancaman masuknya produk pangan hewani yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan masyarakat veteriner yang membahayakan kesehatan hewan di Tanah Air dan konsumsen Indonesia maka sistem perkarantinaan harus diperkuat. (ANT)

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/04/17/1920546

About frizzaquail

Penyedia bibit puyuh super

Posted on Februari 19, 2012, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: